
Pernah mendengar petuah ini, bukan? Bagi anda yang sudah terjun diberagam instrumen investasi, tentu ungkapan ini sudah tidak asing lagi, dan bahkan mungkin sudah menerapkannya dengan baik. Well, ungkapan ini bermaksud memberikan petuah kepada kita agar tidak menitikberatkan semua upaya dan sumber pendapatan kita hanya di satu instrumen atau satu ragam investasi saja. Hal ini karena bisa berakibat kita akan kehilangan semuanya manakala terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan. Contoh, Katakanlah anda investasi di saham. Bagi sebagian besar investor saham, barangkali tidak bisa melupakan peristiwa anjloknya atau "crash" pada bursa efek yang menyebabkan penurunan tajam secara tiba-tiba dalam nilai saham yang terjadi pada tahun 2008. Hal ini dipicu oleh konsekuensi dari apa yang disebut krisis "subprime" AS, yang berkisar sekitar sekuritas keuangan berbasis mortgage berisiko di Amerika Serikat, yang menyebar ke pasar keuangan di seluruh dunia. Imbas dari krisis di Amerika ini membawa dampak yang sangat besar bagi perkembangan harga-harga saham di Indonesia. Satu contoh, harga saham Bumi Resources mengalami koreksi sampai 91,6 persen dari level penutupan Rp 8.550 pada 12 Juni 2008. Bahkan ada rumor yang mengatakan bahwa harga saham saat itu tidak lebih mahal dari harga tisu di toilet. Ketika itu pemerintah terpaksa melakukan penghentian sementara (suspensi)untuk menghindari penurunan yang lebih tajam lagi. Bisa dibayangkan besarnya krisis yang terjadi saat itu benar-benar menghantam harga saham sampai di level terendahnya.
Hikmah apa yang bisa kita ambil dari peristiwa di atas? Disinilah petuah bijak di atas berlaku, bagikan telur-telur anda dalam beberapa keranjang untuk meminimalisir resiko. Atau dalam teori ilmu ekonomi, kita perlu melakukan diversifikasi investasi. Diversifikasi investasi bisa dilakukan dengan memanfaatkan produk-produk investasi lain yang ditawarkan oleh institusi keuangan atau bisa juga dengan produk non-keuangan. Contoh beberapa produk non keuangan adalah property, waralaba, emas/logam mulia. Sedangkan produk-produk keuangan seperti tabungan, deposito, SBI, saham, obligasi, valuta asing, dan banyak lagi produk investasi sejenis yang ditawarkan baik oleh perusahaan di dalam maupun diluar negeri.
Sebagai contoh, ketika investasi di pasar modal kita sedang mengalami penurunan, investasi kita di logam mulia mengalami kenaikan. Contoh lain, meskipun harga saham kita dalam beberapa hari mengalami penurunan, disisi lain investasi kita di sektor real atau properti justru semakin bagus dan tidak terganggu. Contoh lain lagi, anda juga bisa memiliki dua saham perusahaan dengan produk yang berbeda, misalkan perusahaan yang produknya ramai di musim hujan, seperti jaket, jas hujan, dan payung; sedangkan yang satunya lagi justru laku pada musim panas,seperti eskrim dan pakaian/perlengkapan ke pantai.Keseimbangan dalam berinvestasi inilah yang bisa meminimalkan resiko investasi kita.
Hal yang perlu diingat adalah, jangan terlalu banyak diversifikasi, karena ini akan menyulitkan kita untuk memantau. Jangan juga mudah percaya oleh bujukan atau rayuan yang ditawarkan oleh pihak lain sebelum anda benar-benar sudah memahami dan mempelajari produk investasi tersebut.
1 comment:
Thanks infonya. Oiya ngomongin diversifikasi, ada beberapa hal loh yang sejatinya perlu diperhatikan oleh investor sebelum melakukannya. Apa aja itu? Temen-temen bisa cek di sini: diversifikasi investasi aman
Post a Comment